JAKARTA – Fenomena gerhana matahari cincin (annular) diprediksi akan terjadi pada 17 Februari 2026, menjelang awal bulan puasa yang diperkirakan dimulai sehari setelahnya. Puncak gerhana diperkirakan berlangsung pada pukul 07.12 EST atau 19.12 WIB. Pada momen tersebut, posisi bulan berada tepat di depan matahari.
Sekitar 96 persen piringan matahari akan tertutup oleh bulan. Sisa cahaya yang tampak akan membentuk lingkaran terang menyerupai cincin api. Namun, fenomena cincin ini hanya dapat diamati di wilayah tertentu karena jalur pengamatannya tergolong sempit.
Secara geografis, jalur gerhana annular membentang sepanjang lebih dari 4.000 kilometer dengan lebar sekitar 600 kilometer. Wilayah yang dilalui berada di kawasan Antartika, yang dikenal sebagai daerah terpencil dan sulit dijangkau. Sementara itu, sebagian wilayah lain hanya dapat menyaksikan gerhana secara parsial, meliputi Antartika, Afrika bagian selatan, dan Amerika Selatan bagian selatan.
Bagi pengamat di luar wilayah tersebut, fenomena ini tetap dapat diikuti melalui siaran langsung daring yang akan disediakan oleh sejumlah lembaga. Mengutip laporan Space, jadwal serta akses siaran langsung masih menunggu konfirmasi resmi dan diperkirakan akan diumumkan mendekati hari pelaksanaan.
Secara ilmiah, gerhana matahari terjadi ketika bulan berada pada satu garis lurus dengan matahari dan bumi, yang berlangsung saat fase bulan baru. Pada gerhana annular, posisi bulan berada lebih jauh dari bumi, sehingga matahari tidak tertutup sepenuhnya dan menyisakan cahaya berbentuk cincin