PROBOLINGGO – Sejumlah desa di Kabupaten Probolinggo perlu mendapat perhatian khusus karena masuk wilayah rawan tanah gerak. Di kawasan ini berdiri ratusan rumah yang dihuni ratusan warga, dengan tingkat risiko yang meningkat terutama saat musim hujan. Dua desa yang masuk zona waspada tersebut berada di Kecamatan Krucil.

Fenomena pergerakan tanah menjadi persoalan serius karena berpotensi menimbulkan korban jiwa serta kerugian materi. Peristiwa serupa pernah terjadi di Dusun Brigaan, Desa Plaosan. Ancaman yang sama juga mengintai tiga dusun di Desa Sumberduren, Kecamatan Krucil, yakni Dusun Sumberkapong, Dusun Manggisan, dan Dusun Taman.

Secara geografis, Kecamatan Krucil berada di kawasan dataran tinggi. Bahkan beberapa desa berada di wilayah pegunungan yang berbatasan langsung dengan tebing curam, seperti Desa Plaosan dan Desa Sumberduren. Setiap musim hujan, dua desa ini menjadi daerah yang harus diwaspadai karena rawan longsor dan tanah gerak.

Sejumlah dusun di wilayah tersebut dinilai memiliki potensi pergerakan tanah yang cukup tinggi. Karena itu, kewaspadaan tidak hanya perlu dilakukan oleh masyarakat setempat, tetapi juga membutuhkan perhatian dari pemangku kebijakan melalui upaya mitigasi serta penanganan jangka panjang.

Salah seorang warga Desa Plaosan, Ahmad (40), mengungkapkan bahwa ancaman longsor dan tanah gerak sudah menjadi peringatan tersendiri bagi warga. Pasalnya, desa mereka berada di punggung gunung yang masih masuk kawasan Pegunungan Argopuro. Saat musim hujan, kewaspadaan terhadap dua potensi bencana itu semakin ditingkatkan.

“Sebagian warga sebenarnya belum terlalu paham soal tanah gerak. Yang mereka tahu hanya tanah retak atau longsor. Tapi tetap saja, ini selalu jadi perhatian warga,” ujarnya.

Kewaspadaan semakin meningkat ketika hujan deras turun dalam waktu lama, terutama bagi warga yang rumahnya berbatasan langsung dengan tebing. Saat hujan, mereka cenderung lebih waspada. Bahkan pada malam hari, sebagian warga memilih tidur bergantian, atau tidak tidur sama sekali, untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana.

“Kami tidak berharap terjadi bencana, tapi langkah ini dilakukan sebagai antisipasi,” katanya.

Perangkat Desa Plaosan, Suparman, menjelaskan bahwa Desa Plaosan memang masuk zona rawan longsor dan tanah gerak. Kondisi geografis berupa dataran tinggi serta kedekatan dengan tebing menjadi faktor utama meningkatnya risiko tersebut. Saat musim hujan, hampir seluruh wilayah dusun berpotensi mengalami longsor.

Salah satu wilayah yang terdampak paling serius adalah Dusun Brigaan. Di dusun ini ditemukan fenomena tanah gerak. Dusun Brigaan berada di dataran tinggi yang sebagian besar berupa lahan kosong dan area pertanian, dengan jumlah penduduk sekitar 104 kepala keluarga (KK).

“Tanah gerak terjadi di satu dusun. Kondisinya terlihat dari tanah yang retak-retak dan permukaannya menurun. Selama ini warga mengira hal itu karena tanahnya gembur, sehingga terjadi penurunan,” jelasnya.

Menurut Suparman, peristiwa tanah gerak di Dusun Brigaan terakhir kali terjadi sekitar 30 tahun lalu. Fenomena tersebut kembali muncul sejak 2020, ditandai dengan seringnya longsor, penurunan tanah, serta retakan pada permukaan tanah. Bahkan, sejumlah dinding rumah warga juga mengalami retak akibat pergeseran tanah.

Tanah gerak paling sering terjadi di RT 7 dan RT 8/RW 4, Dusun Brigaan, yang dihuni sekitar 49 KK. Saat ini, warga di wilayah tersebut telah diimbau untuk melakukan relokasi ke tempat yang lebih aman, mengingat keselamatan mereka terancam.

Suparman menambahkan, sebagian warga memilih pindah demi alasan keamanan. Namun, ada pula yang tetap bertahan karena belum memiliki tempat tinggal baru, serta masih menggantungkan hidup dari lahan pertanian dan kebun di wilayah tersebut.

Lahan tersebut menjadi satu-satunya sumber penghidupan, sehingga sulit untuk ditinggalkan. Jika potensi bencana meningkat, mereka biasanya hanya mengungsi sementara. Setelah kondisi dinilai aman, warga kembali menempati rumah mereka seperti semula.